Don’t Breathe (2016): Sesak nafas yang membutakan

Review Don’t BreatheJudul film terbaru Fede Alvarez (Evil Dead remake) sebenarnya adalah sebuah pesan bagi para karakternya, sekaligus bagi penontonnya. Sajian thriller non-stop ini benar-benar membuktikan substansi dalam judulnya, bahkan lebih. Jangankan tahan nafas, bernafas saja sulit saat menonton thriller home-invasion ini.

Setupnya sederhana: tiga orang perampok muda—Money (Daniel Zovatto), Rocky (Jane Levy) dan Alex (Dylan Minnette)—berencana merampok rumah seorang veteran Perang Teluk yang tuna netra (Stephen Lang). Kabar bahwa si veteran menyimpan ribuan dollar, ganti rugi atas kecelakaan maut yang menewaskan putrinya, menjadi alasannya.

Perampokan yang sepertinya akan berjalan mudah ini justru kacau balau karena ternyata si veteran tuna netra bukanlah ‘mangsa empuk’ seperti yang mereka pikirkan. Banyak hal yang orang buta ini sembunyikan; dan parahnya lagi, kegelapan telah menjadi dunianya. Dibekali pendengaran yang luar biasa serta sisa panca inderanya yang teramplifikasi, sang korban berubah menjadi sang pemburu dalam twist yang luar biasa ini.

Don’t Breathe (2016) – Daniel Zovatto, Jane Levy, Dylan Minnette // Image via IMDb

Fede Alvarez bisa jadi menurunkan kadar gore-nya jauh dari yang ia kerjakan di Evil Dead; namun bukan berarti Don’t Breathe kehilangan tajinya. Ia mengkompensasikannya dalam segala kepiawaian teknisnya untuk menghadirkan ketegangan tanpa hanti. Mulai dari kesunyian yang mendominasi sambil sesekali dihiasi desahan nafas para karakternya yang takut mati serta disturbing score dari  Roque Baños; sampai ke pergerakan kamera Pedro Luque yang menyapu setiap sudut ruangan bahkan memaparkan beberapa detail yang tak penonton ketahui signifikasinya sampai nanti terungkap; Don’t Breathe secara literal tak memberi kesempatan untuk bernafas.

Sensasi klaustrofobik luar biasa dihadirkan dalam setiap frame; terlebih saat lampu dimatikan dan sinematografinya berubah dalam mode night vision. Penonton memang dibutakan sesaat karenanya, tapi tidak dengan sang tuna netra. Baginya setiap detail bunyi adalah petunjuk; saat itu pula penonton dipaksa untuk merasakan kengerian setiap kali bunyi-bunyi lantai yang berderit, pintu yang tertutup, atau langkah yang terlalu keras terdengar.

Seolah Fede Alvarez mencoba mencentang semua daftar trik terror yang ada ke dalam Don’t Breathe; hanya saja ia pintar merangkai setiap been-there-done-that moments tersebut menjadi satu kesatuan terror holistik selama kurang dari 90 menit.

Don’t Breathe (2016) – Stephen Lang // Image via IMDb

Di permukaan, Don’t Breathe seolah dipenuhi miscast di sisi perampoknya. Jane Levy yang juga alumnus Evil Dead tak terlihat seperti perampok ulung; apalagi Dylan Minnette yang sama sekali tak relevan untuk peran ini. Namun, script Fede Alvarez dan Rodo Sayagues ternyata justru memberi tempat yang pas bagi gerombolan mereka. Bukan sebagai perampok professional, tapi mereka dijadikan sebagai perampok kecil yang cukup pintar untuk memahami berbagai detail perampokan dan resikonya.

Sementara itu lawan mereka, Stephen Lang, hadir sebagai kebalikan mereka. Tetap terlihat mengerikan meskipun buta; karakternya benar-benar menjelma menjadi monster yang sebisa mungkin kalian hindari. Lang sukses menghadirkan gestur-gestur tuna netra yang seharusnya bisa menjadi kelemahan karakternya, justru menjadi sesuatu yang mengintimidasi lawannya.

Untuk melengkapi sajian super frustrating-nya, Alvarez menyuntikkan karakterisasi yang tipis namun cukup menghadirkan sumpah serapah. Semua karakternya punya motivasi yang kuat untuk aksi-aksinya, hanya saja caranya mereka yang morally ambiguous. Sulit untuk rooting kepada satu pihak bahkan sampai akhir, namun Don’t Breathe  tak peduli. Film ini hanya ingin membuat penontonnya merasa sesak setiap saat… dan, untuk tujuan itu, ia berhasil.

Don’t Breathe (2016) – Jane Levy // Image via IMDb

Don’t Breathe terasa seperti kejutan kecil bagi pecinta thriller—tak tampil menggelegar namun konsistensinya sukses membuat ketegangan tanpa akhir. Seperti judulnya, film ini sukses membuat penontonnya sesak nafas namun puas.

Don’t Breathe (2016)

Horror, Thriller Directed by: Fede Alvarez Written by: Fede Alvarez, Rodo Sayagues Starred by: Stephen Lang, Jane Levy, Dylan MinnetteDaniel Zovatto Runtime: 88 mins Rated R

IMDb

Review ini dipersembahkan oleh Book My Show Indonesia.

6 comments on “Don’t Breathe (2016): Sesak nafas yang membutakan

  1. Gileeee reviewnya detail banget. Aku merasa reviewku dalam film-film lain sungguh dangkal. :))))

    Tapi film ini emang sukses bikin nahan nafas sih. Satu bioskop jadi gak bersuara, sama-sama ikut menahan nafas seperti tokoh-tokohnya. Asli film ini sungguh membangun emosi dan ketakutan yang ada. Salut untuk Stephen Lang yang sukses membangun karakter jadi semenakutkan ini.

    Aku sendiri gak gitu suka sama tokoh-tokohnya, abis nyebelin semua kecuali si Alex tapi yaaa gitu deh. :)))

  2. saya suka tulisannya 👍
    tapi secara pribadi ya, menurut saya film nya dengan rating di IMDB yang tergolong tinggi itu, kurang sebanding dengan feel yang saya dapat. menurutku, feelnya kurang dapat gitu, kurang greget aja tidak semenegangkan yang aku bayangkan ketika melihat poster maupun trailernya. itu opini saya sih

    1. Thanks udah mampir 😀 emang opini orang tentang ‘ketegangan’ ngga bisa selalu sama kok hehe
      tapi ketika nonton ini di bioskop dengan sound system yg menggelegar, ketegangannya lebih kerasa kok hehe

      1. hahaha iya benar sekali. padahal saya nontonnya sendirian dengan suasana yang engga kalah menegangkan tapi yang saya bingung ratingnya film ini bagus tapi menurut saya biasa saja. sempat berpikir atau saya sudah kecanduan dengan film psikopat ya? 😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *