What the Hell... oween! #2: The Blair Witch Project X Blair Witch

What the Hell… oween! #2: The Blair Witch Project X Blair Witch

Di serial What the Hell… oween! A Collaborative Post dari sinekdoks dan Hzboy a.k.a. Hestia Istiviani kali ini, kami akan mengulas dua film sekaligus: The Blair Witch Project sebagai salah satu horror paling esensial dengan kontribusinya terhadap film-film found footage dan viral marketing; serta sekuel rahasianya, Blair Witch.

Review santai The Blair Witch Project X Blair Witch ini adalah bagian kedua dari kolaborasi sebulan ini. Di minggu #1, kami telah mengulas Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children dan masih ada 2 minggu lagi. Untuk jadwal dan detail lainnya, sila baca post pengantarnya.

So, untuk duo Blair Witch ini, berikut adalah take Hzboy:

How Hzboy stumbles into those movies: My life completely changed since I moved here. Sekarang sudah nggak bisa lagi langsung cabut nonton sepulang kerja. Dan seminggu ini, aku masih harus berkutat dengan pekerjaan bahkan setelah jam kerja berakhir. End up, aku mengusahakan supaya pekerjaanku bisa selesai lebih cepat. Meskipun harus menonton via streaming tapi ternyata butuh usaha juga ya (anaknya malah curhat). Judul Blair Witch sebenarnya sudah aku tahu sejak dia masuk ke dalam daftar coming soon di situs 21 Cineplex. Berbeda dengan The Blair Witch Project yang ku ketahui setelah kepo lebih jauh tentang Blair Witch.

Frankly, ini kasus langka ketika seseorang baru mengenal The Blair Witch Project setelah mengetahui keberadaan Blair Witch. Alasannya, film tersebut sudah sangat melegenda di kalangan penggemar horror; lagipula, film ini banyak dibuat parodi dan spoof-nya di film-film lain.

Tapi karena dia baru tahu Blair Witch setelah lihat jadwal coming soon di 21 Cineplex. I guess that’s a thing.

How she puts everything into synopsis: The Blair Witch Project dan Blair Witch ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Blair Witch sendiri merupakan sekuel dari The Blair Witch Project (1999). Namun keduanya memiliki garis besar cerita yang kurang lebih mirip. Di The Blair Witch Project, 3 orang mahasiswa, dipimpin oleh Heather Donahue, ingin membuktikan tentang mitos Blair Witch. Berangkatlah mereka dengan persiapan yang cukup untuk bertahan hidup di tengah hutan. Namun ternyata, Heather dan 2 temannya dinyatakan hilang. Puluhan tahun kemudian, adiknya, James Donahue yang melihat video rekaman Heather di salah satu lokasi hutan percaya bahwa kakaknya mungkin masih terperangkap di sana. Ia pun dibantu dengan beberapa mahasiswa dan penduduk lokal kembali menyusuri hutan dan berharap ia menemukan jawaban apa yang terjadi dengan Heather dan kebenaran dibalik mitos Blair Witch yang sudah turun temurun diceritakan itu.

Sinopsisnya mudah sekali yang diikuti, like seriously. But, that’s really how both films go. Tinggal diungkap bagaimana akhirnya, selesai sudah sinopsisnya. Intinya, duo Blair Witch ini memang memiliki plot yang sederhana dan minim intrik; tapi keduanya dinarasikan dengan efektif, meskipun tak selalu tepat sasaran. Blair Witch sebagai sekuel seharusnya bisa menghadirkan plot yang jauh lebih kompleks dengan mengeksplorasi mitos film ini dengan lebih dalam, dan bukannya hanya mengikuti pola kakaknya.

How she reviews it: To be honest, aku baru tahu kalau The Blair Witch Project ini masuk ke dalam salah satu daftar best horror movies. Mengusung konsep found footage, film arahan duet sutradara Eduardo Sanchez dan Daniel Myrick, bagiku jauh lebih menarik ketimbang sekuelnya. Di The Blair Witch Project setidaknya penonton merasakan ketegangan plus penasaran dengan suara-suara aneh yang hanya didengar oleh para pemain. Belum lagi karena The Blair Witch Project ini, Heather dan kawan-kawannya belum dilengkapi peralatan canggih. Mereka saja masih menggunakan peta konvensional ketimbang yang digunakan adiknya dalam Blair Witch. Sanchez dan Myrick sengaja membuat supaya found footage yang dilakukan oleh Heather terkesan seperti rekaman dokumenter asli sehingga tim The Blair Witch Project menurunkan kualitas ketajaman gambarnya. Tapi menurutku, malah hal tersebut yang membuat film ini menjadi unik.

Dibandingkan dengan Blair Witch (2016) yang sudah semakin canggih, mereka membawa drone pula bahkan untuk mengantisipasi jika mereka tersesat, aku masih suka dengan film pertamanya. Terutama ekspresi ketakutan para pemain saat mereka tahu bahwa mereka tersesat. Menjadi stress karena sesuatu yang tak tampak terus menerus meneror mereka di saat malam dan adu mulut siapa yang salah serta mengapa masih bersikeras untuk memvideokan apa yang mereka alami. Bagiku sendiri, The Blair Witch Project memiliki kualitas cerita yang lebih baik ketimbang sekuelnya. Hanya bertiga di dalam hutan dengan peralatan pada masa itu jauh lebih memberikan kesan horor ketimbang datang rombongan disertai guide penduduk lokal dan media perekam plus GPS yang canggih. Meskipun, tidak membantu mereka juga pada akhirnya.

Aku menikmati menonton The Blair Witch Project. Ketika Heather cs mulai mendengar suara-suara aneh seperti suara bayi, aku malah makin penasaran. Dilanjutkan dengan penampakan tumpukan batu yang mereka temukan besok paginya di luar tenda mereka dan juga rangkaian kayu yang seakan seperti mengepung mereka. Namun, barulah ketika mereka masuk ke dalam rumah Mr. Parr-lah yang scare me the most. Di situ lah aku mulai menerka-nerka, jangan-jangan wujud aslinya si Blair Witch ini akan tampak. Sedangkan untuk Blair Witch, aku rasa agak konyol sih. Aku sendiri malah jadi heboh ketika salah satu pemainnya terluka. Ada scene dimana lukanya dibersihkan dan lukanya menjadi semakin parah. Bukan karena hantunya atau hal-hal yang dilakukan oleh unseen force.

The Blair Witch Project memang lebih unggul dalam menghadirkan kesan nyata dalam presentasinya. Namun, ketidak berhasilannya untuk mencengkeram itulah yang membuatnya jauh dari kesan seram (padahal itu yang dicari penontonnya); hal itu justru dapat dihadirkan sekuelnya. Keduanya bisa dibilang unda-undi; yang kurang di film pertama berhasil dihadirkan sekuelnya, demikian pun sebaliknya.

Blair Witch sendiri sebenarnya adalah jawaban modern untuk problematika yang dihadirkan The Blair Witch Project. Pertanyaannya seperti ini: kalau kejadian yang dialami Heather ini terjadi di masa kini, mungkinkah mereka survive? Ternyata, si Blair Witch memang lebih mengerikan dari yang dipikirkan. Kalau dulu dia malu-malu, sekarang dia lebih jahil dan frontal. Memasang totem maut dan memasukkan hewan ke dalam tubuh orang adalah contoh nyatanya.

What scares/excites her most is: How The Blair Witch Project menutup filmnya adalah my favorite part of this movie. Emosi penonton rasanya dibiarkan berada pada puncak ketakutannya ketika mengetahui apa yang terjadi dengan Mike dan menyusul, Heather. Menurutku, itu adalah cara yang paling ciamik untuk menyelesaikan sebuah film dan biarkan penonton mengarang sendiri apa yang terjadi selanjutnya dengan para mahasiswa tersebut. Berkebalikan dengan Blair Witch, Adam Wingard sepertinya sengaja menambahkan dengan bumbu-bumbu “kekerasan” seperti kaki yang terluka hingga (ini yang paling aku suka) terbunuhnya salah satu dari mereka. Ya, karena di The Blair Witch, Sanchez dan Myrick hanya menawarkan hal yang supernatural.

Ending The Blair Witch Project memang yang paling keren, meskipun sentuhan black comedy yang dihadirkan untuk menutup Blair Witch juga sama kerennya. Sebenarnya, Blair Witch tampil lebih visceral karena satu alasan saja: mereka ada bugdet untuk produksinya; sementara predesesornya tidak.

What she dislikes most: Berkebalikan dengan The Blair Witch Project, apa yang tertuang dalam Blair Witch kurang ku suka. Apalagi sebagian besar dari ceritanya tidak jauh berbeda dengan film pertamanya. Cara mereka mengambil gambarnya terutama is what I dislike the most. Gambarnya sebagian fuzzy dan juga lebih membuat aku bingung. Sedangkan pada film terdahulunya, adalah plot-nya yang sengaja dibuat agak melambat. Dugaanku sih karena tidak ada sesuatu yang overly berdarah-darah dalam film ini.

That’s my point, too. Perkembangan teknologi yang dihadirkan Blair Witch ternyata malah membuat filmnya menjadi makin memusingkan karena pergerakan kameranya yang excessive. Di sisi lain, itu membuat filmnya somehow terasa vivid tapi memang tidak audience-friendly. Plot lambat The Blair Witch Project yang tidak menggigit juga menghadirkan poin yang sama. Namun, durasinya yang memang pendek sepertinya mengizinkannya.

What she would do if she was in the movie: Ada cerita lucu ketika aku sudah menyelesaikan The Blair Witch Project. I got nightmare. Aku merasa berada di dalam rumah Mr. Parr, melihat banyak cetakan telapak tangan di dinding. Beberapa perabot melayang-layang. If I were Heather, aku akan lebih memilih untuk keluar dari rumah itu, meskipun aku juga tahu the unseen force akan mencegahku untuk lari dari situ. Tapi, kira-kira, kalau aku baca Ayat Kursi, si Blair Witch ini bakalan takut sama aku nggak ya?

Bagian terbawa mimpi itu paling epic! Hal tersebut membuktikan bahwa filmnya sukses menunaikan tugasnya sebagai film horror. Untung mimpi itu tidak terjadi berulang-ulang; kalau seperti itu, mungkin kita bisa menghubungi Lionsgate untuk mengajukan ide sekuel lagi… with Ayat Kursi!!!

Her final verdict: Secara keseluruhan, aku jauh lebih suka The Blair Witch Project karena meletakkan kumpulan emosi penontonnya di akhir cerita. Sedangkan Blair Witch, aku hanya merasa seperti menonton jiplakan film besutan Sanchez dan Myrick tersebut. I give 4 of 5 stars for The Blair Witch Project dan hanya 2 bintang untuk Blair Witch.

You’re entitled to it, but I don’t think The Blair Witch Project deserves that.


Tampaknya Hzboy a.k.a. Hestia Istiviani cukup mengagumi The Blair Witch Project dan kurang simpatik dengan Blair Witch. Kita doakan saja agar nightmare-nya berlanjut, siapa tahu ada perubahan penilaian kalau itu terjadi.

Sementara itu, untuk baca sudut pandang lain dari sinekdoks, sila kunjungi dan baca entry What the Hell… oween! #2 di blog Hestia Istiviani. Have a scary nightmare!

6 thoughts on “What the Hell… oween! #2: The Blair Witch Project X Blair Witch”

  1. Blair Witch Project ini salah satu film horror favorit aku karena memberikan kesan seram tanpa menampilkan fisik si pembuat onar.

    Belum nonton yang sekuel. Tapi mau nonton juga karena penasaran.

    Like

Say something! Say something!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s