Setelah Battleship yang gagal, Peter Berg mencoba sebuah proyek untuk mengembalikan namanya. Kali ini dia tidak membuat film yang berdasarkan permainan, tapi, buku. Lone Survivor dibuat berdasarkan buku yang berisi memoar Marcus Luttrell dan Patrick Robinson yang menceritakan tentang sebuah misi Navy SEAL Amerika di Afghanistan.
Awalnya, Lone Survivor terdengar seperti film snub ala kadarnya–yang mengagung-agungkan tentara Amerika. Tapi, ternyata film ini bukanlah film snub sama sekali. Lone Survivor bukanlah kisah kemenangan–ini adalah sebuah kisah kegagalan yang ternyata cukup mengesankan.
Film dimulai dengan footage pelatihan Navy SEAL yang super keras yang menuntun kita pada para protagonis–empat orang anggota Navy, Marcus Luttrell (Mark Wahlberg), Michael P. Murphy (Taylor Kitsch), Danny Dietz (Emile Hirsch), dan Matthew Axelson (Ben Foster). Masalah muncul ketika mereka harus terlibat masalah dengan warga sipil. Bagai makan buah simalakama–mereka dihadapkan pada dilema besar. Melepaskan para warga itu dengan kemungkinan mealpor ke Taliban dapat menyebabkan pasukan mereka diserang–lebih parahnya, misi mereka menumpas Ahmad Shah gagal. Namun, jika tidak melepaskan mereka, nasib warga sipil ini tetap di ambang kematian.
Menghadapi konflik seperti ini, Michael sang pemimpin memutuskan untuk melepas para warga sipil ini lalu mundur dari pertempuran. Semua menjadi kacau ketika salah satu warga sipil itu ternyata melapor ke Taliban–dan nyawa sepasukan Navy SEAL ini benar-benar di ujung tanduk.
Cukup mengejutkan juga jika akhirnya Lone Survivor mampu menyeimbangkan porsi aksi dan drama di dalamnya. Film ini bukan hanya tentang baku tembak dan keagungan Amerika–film ini tentang dilema moral besar yang memaknai perang itu sebenarnya. Tapi, tak bisa dipungkiri, aksi tembak-tembakan di film ini memang sangat meyakinkan. Desingan dan dentuman senjata api terdengar sangat nyata dan dekat–detail pertempuran pun terlihat sangat nyata. Atmosfer pertempuran cukup terasa mengganggu juga.
Kuartet protagonisnya pun memainkan peran mereka dengan sangat baik. Bahkan, luka mereka yang terlihat nyata dibuat makin nyata dengan bagaimana mereka menghayati luka tersebut. Sayangnya, beberapa dramatisasi justru mengganggu jalannya cerita–protagonisnya seolah superman. Mereka sangat die-hard dan nyaris terlalu kuat (atau mungkin mereka sebenarnya UniSol).
Bagaimanapun juga, saya merasa puas dengan pekerjaan Peter Berg di sini. Kemampuannya membuat film aksi sungguh makin mengagumkan–meskipun skalanya diperkecil. Ditambah lagi dengan gagasan menampilkan para tokoh asli dari kisah ini di akhir film sungguh sangat efektif. Apresiasi saya benar-benar tertuju pada Peter Berg kali ini.

Leave a Reply