12 Years A Slave (2013)

“12 Years A Slave is not just a character study of the main protagonist like what McQueen usually shows in his movie; it’s more like an observation of what the main protagonist observe.”

Steve McQueen kembali membuktikan bahwa ia adalah seorang jenius yang terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Ia suka sekali memaksa penonton untuk menyaksikan penderitaan protagonisnya: pimpinan IRA, Bobby Sands dalam Hunger dan Brandon dalam Shame (keduanya diperankan oleh Michael Fassbender) telah menunjukkannya. 12 Years A Slave cuma contoh lain dari kebiasaan itu.

12 Years A Slave memperkenalkan penontonnya pada Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor)—seorang pria bebas yang diculik dan dijual untuk menjadi budak. Dia diberi identitas baru oleh penculiknya. Awalnya, dia dijual pada majikan yang lebih manusiawi, Ford (Cumberbatch), yang mempekerjakannya sebagai insinyur bangunan dan pemain biola. Perselisihannya dengan mandor Tibeats (Dano) mengubah segalanya. Dia digantung di pohon–setengah mati–dan terpaksa ia meninggalkan majikannya.

Permasalahan yang sebenarnya muncul ketika Edwin Epps (Fassbender), majikan baru Solomon yang biadab, mulai muncul di layar. Pertentangannya dengan majikannya, Solomon berjuang bukan hanya untuk bertahan hidup tapi juga untuk menjaga harga dirinya… selama 12 tahun.

Satu hal yang saya dapat setelah menyaksikan 12 Years A Slave adalah kenyataan–bahwa saya benci perbudakan (bahkan efeknya lebih buruk daripada Django Unchained). Melalui film ini, yang saya lihat bukan sekedar studi karakter seperti kebiasaan McQueen dengan protagonisnya; yang kita lihat di sini adalah sebuah pengamatan tentang apa yang protagonis kita amati. Yang bisa kita lihat dari psikologis Solomon tidak lebih dalam daripada apa yang kita lihat dari visinya akan Patsey (Lupita Nyong’o), atau Epps, atau bahkan sang penyelamat Bass (Brad Pitt). Solomon hanya medium.

Bagaimana Ejiofor memerankan Solomon memang layak diperdebatkan untuk Oscar. Namun, di layar, Solomon sering jatuh ke dalam penderitaannya sendiri karena judgement-nya. Seperti biasa, kolaborator favorit McQueen, Fassbender yang memerankan Epps, mampu menampilkan pria yang berkuasa–namun sebenarnya lemah di dalam dirinya. Obsesinya pada Patsey dan cara Patsey menanggapinya membuat penampilan Lupita Nyong’o terasa penuh getir.

12 Years A Slave menampilkan suasana perkebunan yang hangat dan indah di antara gambar perbudakan yang sangat kejam… sangat kejam sampai-sampai suara cambuk pun terdengar sangat nyata–sangat kejam sampai-sampai adegan Solomon digantung terasa sangat lama (padahal hanya beberapa menit saja di layar). Melodi suara angin dan serangga bahkan terdengar lebih mengusik daripada scoring Hans Zimmer yang terasa seperti deja vu scoring Shame.

7 comments on “12 Years A Slave (2013)

  1. Watching 12 Years A Slave, for me, is like being pulled into Solomon’s life. Rasanya kayak dipaksa ikut ngerasain setiap penderitaan Solomon dan Patsey di bawah kekejaman suami istri Epps. Sakit :”)
    Dan Lupita Nyong’o gila banget di sini. Mata sama muka “kosong”nya dia bikin merinding. Fassy juga parah banget jahatnya. Cumberbatch sama Brad Pitt justru agak forgettable, entah kenapa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *