Sebagai fan Park Chan-wook dan film Oldboy orisinal, saya ingat saya pernah sangat bersemangat ketika mendengar Hollywood berencana me-remake Oldboy. Sekarang, setelah menyaksikannya, saya lupa semangat saya dulu. Usaha Spike Lee untuk tidak me-remake film ini mentah-mentah memang patut dihargai, tapi…
Versi Spike Lee dibuat berdasarkan skrip tulisan Mark Protosevich yang sudah disesuaikan dengan konteks Hollywood-nya. Skrip ini saya rasa berusaha mencoba berbeda dari film aslinya, namun, masih memberi penghargaan pada film aslinya dengan beberapa homage ikonis (yang nampaknya juga kurang berhasil). Oldboy ini masih menampilkan seorang pemabuk yang diculik dan dikurung di sebuah ruangan seperti hotel dengan TV yang senantiasa menjadi jendela dunia serta dumpling untuk dimakan sehari-hari. Hanya saja, pria ini dikurung selama 20 tahun (5 tahun lebih lama dari versi Chan-wook, tapi sama dengan versi manganya) dan namanya adalah Joe Doucett (diperankan dengan sangat muram tapi kurang menyebalkan oleh Josh Brolin). Joe punya prolog yang lebih panjang dari Oh Dae-su, si pria malang versi Chan-wook. Prolog ini mencoba mendikte penontonnya bahwa Joe memang layak bernasib seperti ini—sedikit berbeda dengan film aslinya yang membuat kita bertanya-tanya pantaskah Dae-su dapat perlakuan seperti itu. Dari TV di “kamar”nya, Joe tahu banyak hal, seperti kematian istrinya, diadposinya putrinya, serta adanya sebuah acara TV yang membahas tentangnya.
Saat Joe hampir menemukan jalan keluar, ia justru dibebaskan dengan tiba-tiba (dengan kopor yang lebih besar, tapi tanpa unsur metafisik). Dipenuhi dendam, Joe bertemu seorang gadis muda (Elizabeth Olsen) yang menampung dan merawatnya. Dalam usaha balas dendamnya, ia bertemu seorang pria eksentrik (Sharlto Copley) yang mengaku telah menculiknya. Dari situ, kita akan dihadapkan pada adegan aksi penuh kekerasan, termasuk pendefinisian ulang pertarungan koridor dan penyiksaan terhadap pria mohawk milik Samuel L. Jackson. Sutradara Spike Lee memutuskan untuk tidak mengimitasinya mentah-mentah, tapi membuatnya lebih besar daripada adegan aslinya dengan selera over-the-top-nya yang bagus tapi aneh.
Film aslinya sangat mengandalkan twist dan pengaburan imajinasi dan realitasnya; sementara, versi terbarunya terlalu mengandalkan unsur kekerasannya (yang sengaja dibuat agar mendapat Rating R). Akhirnya, kenyataan pahit memang untuk Oh Dae-su 2.0, namun dengan nasib yang lebih “Amerika”. Twist-nya masih bagus, terlebih bagi yang belum menonton film aslinya, meskipun twist ini terlalu logis dan kurang tabu—mengesampingkan pleasure versi Chan-wook. Seolah ada interpretasi yang kurang tepat dalam mentansferkan “tabu” versi Korea Selatan dengan tabu versi Barat—di mana semuanya lebih logis dan tak pernah lupa diri.
Scene-to-scene film ini memang tak masalah, jika harus mengikuti film aslinya. Adegan hotel, koridor, kilas balik di sekolah, serta twist-nya: tak masalah. Tapi beberapa detail memang agak mengganggu. Tak perlu ada gurita atau sayap malaikat, jika memang tak ada hubungannya dengan plot; terlebih jika hanya ingin menghasilkan perasaan “been there, done that” bagi penonton. Selain itu, penampilan yang kurang memuaskan beberapa aktornya (Maaf, Copley. Maaf, Brolin), remake ini cukup mengecewakan. Namun, apapun yang terjadi, Oldboy milik Spike Lee ini telah jadi salah satu film Thanksgiving paling gagal.
Tonton versi Park Chan-wook saja.

Leave a Reply