Share to your friends if you like it!

Review: Akhirnya ada juga yang mengadaptasi serial novel genre-bending Stephen King yang konon ‘tidak bisa diadaptasi jadi film’, The Dark Tower. Disutradarai Nikolaj Arcel, adaptasi ini justru terasa seperti sebuah panduan ‘Cara Mengadaptasi The Dark Tower dengan Gagal’ lantaran banyak elemen yang dikurangi. Elemen horror-nya disederhanakan, Western elemen hanya sebatas outfit, dan elemen brutalitasnya dikurangi menjadi PG. Demi apa?
Tak ada yang spesial dari kisahnya yang seolah “hanya meminjam” berbagai elemen dari novel King, mulai dari menaranya, karakternya sampai konfliknya. Alkisah ada The Dark Tower, yang adalah inti berbagai dunia yang berbeda. Konon, hanya pikiran anak-anak yang bisa menghancurkannya. Seorang penyihir jahat, Men in Black a.k.a. Walter (Matthew McConaughey) berencana menghancurkan menara tersebut demi tujuannya menguasai dunia. Jalan sang penyihir bertentangan dengan seorang Gunslinger, Roland (Idris Elba), yang kawanannya telah punah dihabisi Walter. Di antara keduanya, ada seorang anak laki-laki dari Bumi, Jake Chambers (Tom Taylor), yang hidupnya selalu dihantui bayangan tentang menara kegelapan itu.
The Dark Tower (2017) – Idris Elba | Image via themoviedb
Plot-nya yang kelewat datar ini minus eksposisi dan guide yang komprehensif mengenai dunia Dark Tower. Penjelasan mengenai keberadaan menara tersebut hampir kurang dalam, seolah menara itu hanya dijadikan latar belakang nun jauh. Alasan mengapa dan bagaimana menara tersebut harus dilindungi atau malah dihancurkan justru tak disinggung. Pace-nya yang berantakan ikut berkontribusi dalam mengaburkan eksposisi. Kadang film ini terasa membosankan di momen-momen yang seharusnya kencang, dan terasa buru-buru pada momen yang butuh kesabaran. Lebih parahnya, emosi dilucuti habis dari ceritanya dan filmnya dibuat tone-deaf. Demi apa?
Karakter dibiarkan keluar masuk cerita tanpa makna. Karakter McConaughey ikut berpartisipasi dengan kebiasaannya mendatangi orang dan menyuruh mereka berhenti bernafas. Andai ada kuis ‘siapa paling one-dimensional,’ si Man in Black ini pasti pemenang utamanya. Sang penyandang Oscar ini menghadirkan penampilan penuh komitmen untuk karakter yang harusnya ditulis ulang. Dengan penampilan McConaughey, lucunya justru sisi underwritten-nya sang penyihir malah menjadi misterius. Cukup menarik memang, meskipun tidak terlalu berpengaruh.
Tom Taylor, yang semestinya menjembatani kebaikan dan kejahatan, tampil cukup baik sebagai anak yang muram. Namun, ia tak mampu menyampaikan range emosi yang seharusnya ditampilkan. Bagusnya, ia tidak canggung ketika harus beradu peran dengan pemeran terbaik film ini: Idris Elba. Meskipun tidak digambarkan sekeren karakter aslinya, Elba mampu menghadirkan grittiness dalam diri sang Gunslinger. Ia pun berhasil menampilkan aksi-aksi yang energetic dari seorang pria kesepian.
The Dark Tower (2017) – Matthew McConaughey & Idris Elba | Image via themoviedb
Dengan peran MoConaughey serta Elba, The Dark Tower tak seharusnya jadi banal. Namun, film ini bahkan tak mampu menghadirkan perseteruan keduanya dengan sengit. Perang idealisme antara keduanya terasa hambar dan konflik mereka generic. Pertempuran keduanya pun terasa mengecewakan seolah kedua karakter ini selalu menahan diri. Padahal, perhatikan potensinya: perang antara sihir dan pistol harusnya keren dan inventive, kan?
Penuh kesempatan yang terbuang sia-sia serta ambisi yang mentah, begitulah adaptasi The Dark Tower ini. Semoga Stephen King baik-baik saja.

The Dark Tower (2017)

Action, Adventure, Fantasy Sutradara: Nikolaj Arcel Penulis: Akiva GoldsmanJeff Pinkner, Anders Thomas Jensen, Nikolaj Arcel dari novel Stephen King Pemeran: Idris ElbaMatthew McConaugheyTom Taylor Durasi: 95 mins Rated PG-13
IMDb

Share to your friends if you like it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *