Friday, August 12

Tag: Rating: 3

Incendies (2010) – Review
Movie Review

Incendies (2010) – Review

Tiga tahun sebelum membuat Prisoners, Denis Villeneuve sudah bereksperimen dengan film Kanada-Perancisnya yang sama thought-provoking-nya namun berbeda jalur dengan Prisoners. Sebagai sebuah drama penuh teka-teki tentang pencarian di Timur Tengah, yang tak hanya emosional namun juga memiliki salah satu twist paling sentimental; Incendies terus mengejutkan dan memberi perasaan tidak nyaman. Berdasarkan drama panggung Wajdi Mouawad, Incendies menyuguhkan kisah kompleks nan nyata. More twists inside. Click here!
Frozen (2013)
Movie Review

Frozen (2013)

Ini bukan pertama kalinya Disney mengadaptasi lepas sebuah dongeng--paling dekat, pada tahun 2010 lalu, Disney sudah mengadaptasi kisah Rapunzel dari Grimm Brothers dalam Tangled. Kini, di penghujung tahun 2013, kisah The Snow Queen dari H.C. Andersen diadaptasi lepas dengan judul yang sekali lagi memakai past participle, Frozen. Well, there's more. Click here!
Get A Horse! (2013)
Movie Review

Get A Horse! (2013)

Animasi pendek yang menemani Frozen ini adalah milestone kreativitas baru Disney. Setelah memberi nafas sekaligus jawaban untuk masa depan film animasi 2D di Paperman yang dirilis bersamaan Wreck-It Ralph tahun lalu, Disney memberikan suatu nuansa baru yaitu dengan menggabungkan animasi 2D hitam-putih klasik dari kisah Mickey Mouse berjudul The Plowboy (1929) dengan sentuhan animasi 3D penuh warna. Well, there's more. Click here!
The Hunger Games: Catching Fire (2013)
Movie Review

The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Singkat saja, ketika instalasi pertama The Hunger Games memperoleh kesuksesan komersial yang luar biasa, saya berpikir bahwa kesuksesan itu semata hanya karena kemampuan THG memberikan sesuatu yang tidak bisa Twilight Saga hadirkan, yaitu fokus. Ada perjuangan di sana--dan bukannya romance yang mendominasi plotnya. The 74th Hunger Games (untuk pertama kalinya) menghadirkan dua pemenang dari Distrik 12 dan menyulut api bagi sang presiden tiran, Snow. Kini, setelah pendapatannya yang hampir 9 kali lipat biaya produksinya dan Oscar Jennifer Lawrence, instalasi kedua THG-nya Suzanne Collins kembali ke layar. Well, there's more. Click here!
The World’s End (2013)
Movie Review

The World’s End (2013)

The World's End--film penutup trilogi Cornetto milik sutradara Edgar Wright dan aktor Simon Pegg ini memang--honestly--berbeda dengan kedua film pendahulunya. Tapi itu memang bukan masalah; lagipula, tim sutradara lama dan cast lama dengan formula lama bukanlah cara yang menarik untuk menutup suatu trilogi. Well, there's more. Click here!
THOR: The Dark World (2013)
Movie Review

THOR: The Dark World (2013)

Indonesia (bersama 21 negara lain) cukup beruntung bisa menyaksikan Thor: The Dark World satu minggu sebelum rilisnya di AS, jadi dengan sangat bijak, review ini ditulis dengan bahasa Indonesia untuk menghargai teman-teman di AS. Tapi, tetap saja: SPOILER ALERT! Thor: The Dark World telah membuktikan seberapa gelap kisah si dewa petir pirang ini bisa diceritakan. Meski tidak sedepresif prekuelnya dan tidak segelap The Dark Knight-nya Batman (yang judulnya sama-sama gelapnya), sekuel Thor ini tetap mengusung tone yang muram dengan motif yang dalam. Well, di film ini terlihat jelas bahwa dampak kejadian di Avengers telah mengekskalasi kisah-kisah di Marvel Universe. Setelah Ironman yang mengalami serangan panik di instalasinya yang ketiga, Thor justru mengalami pendewasaan. Well, pendewasaan...
Upstream Color (2013)
Movie Review

Upstream Color (2013)

Tanpa pernah meyaksikan Primer, milestone Shane Carruth, saya (yang nol besar tentangnya) menyaksikan Upstream Color--sebuah film drama "sci-fi" kedua yang disutradarai, diproduseri, diedit, dimainkan, dan scoringnya diisi oleh Shane Carruth sendiri. Well, there's more. Click here!
The Conjuring (2013): Box Office of Terror
Movie Review

The Conjuring (2013): Box Office of Terror

James Wan menghadirkan lagi horror tradisionalnya (persilangan film horror Barat dengan gaya Asia) lewat film terbarunya, The Conjuring. Setelah sebelumnya ia memanifestasikan pemikiran "terror"-nya lewat Saw dan the so-called Insidious, ia kembali lagi dengan formula standarnya namun dengan pendekatan yang berbeda: Sebuah horror modern dengan sentuhan vintage yang menegangkan. (more…)
PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!
Movie Review

PACIFIC RIM (2013): Today, we are cancelling the apocalypse!

Guillermo del Toro membawa pulang pattern-nya membawa makhluk-makhluk cutting edge ke dalam filmnya (setelah absen di Mama, of course). Kalau dulu di franchise Hellboy serta Blade, Del Toro membuat makhluk-makhluk komikal, lalu di Pan's Labirynth, membawa makhluk mitologi, kini ia membawa sesuatu yang lebih besar (in an excessive way, of course): monster-monster reptil raksasa melawan robot-robot raksasa (yang lebih raksasa daripada franchise Transformers). Bagi mereka yang sejak kecil dijejali dengan pertempuran mecha melawan gojira dan variannya, Pacific Rim menjadi perwujudan fantasi mereka dengan tense yang lebih maksimal. (Yakinlah, sebrutal apapun monster dalam dunia animasi, maupun tokusatsu, ancaman mereka tidak akan menghadirkan goosebump semengerikan "apocalypse!") (more…)
The Blue Umbrella (2013): Simfoni Hujan a la Pixar
Movie Review

The Blue Umbrella (2013): Simfoni Hujan a la Pixar

Saat rintik hujan mulai turun, seluruh kota menjadi hidup dalam simfoni yang syahdu. Di antara lautan payung hitam di sepanjang jalan, dua buah payung yang berbeda; yang satu berwarna biru dan yang satu berwarna merah saling tertarik. Tanpa dialog, hanya ditemani alunan melodi sederhana, kita diajak mengikuti perjalanan "cinta" kedua payung tersebut yang tidak mudah, namun menggugah. Dipisahkan oleh alam, namun disatukan lagi oleh takdir. Semua dirangkum dalam film animasi pendek yang berjudul "The Blue Umbrella." (more…)
Mr. Nobody (2010): Probabilitas dalam Alternate Timeline
Movie Review

Mr. Nobody (2010): Probabilitas dalam Alternate Timeline

Sinekdoks memang suka menulis review film atau apapun yang sudah lama lewat --hanya untuk memastikan sudut pandangnya memang benar-benar berbeda. Kali ini, Sinekdoks akan me-review (No! It's more like a self-explanation from me) sebuah film yang dirilis tahun 2009, yaitu "Mr. Nobody". (more…)

Twitter Timeline

error: Content is protected !!